20.4.13

Gajah II

Lalu sang gajah tidak lagi melulu di kasurnya. Dia mencoba untuk menjelajah lembah miliknya. Burung-burung sesekali membantunya mencari arah kalau-kalau dia bingung. Dan sang kuda, gajah merindukan kisah sang kuda.

Gajah mencari kuda, sesekali, dalam perjalanannya. Barangkali ada kuda di padang bukit sebelah barat. Barangkali ada kuda dekat tegalan di timur sana, barangkali ada kuda dekat pohon besar yang melegenda. Barangkali, bahkan seribu barangkali dan gajah tetap melakukannya.

Dan itulah, dalam pencariannya itu sang gajah belajar berlari di padangan. Mendengar bajing-bajing bercerita perihal pohon mereka. Melihat ular mulai bersiaga di serasahan dan semak mereka. Membaui bunga-bunga yang hanya mekar di malam hari. Merasakan buah macam rasa yang hanya ada di dalam-dalam hutan. Gajah banyak belajar, banyak mencari tahu.

Kadang gajah mencoba memanggil kuda dengan irama khasnya, dan tak pernah ada jawaban. Gajah hanya melihat jejak, tapi tidak pernah menemukan sang kuda. Nyatanya, gajah masih melanjutkan penjelajahannya hingga sekarang, di bulan ke sekian jelajah lembahnya.

*Sang kuda.
Kuda tidak pernah menampakkan diri. Kuda tahu gajah sedang menjelajah lembahnya. Kuda tahu dan melihatnya dari jauh. Dia ingin gajah merasakan petualangan sepenuhnya tanpa harus digandrungi olehnya. Kuda tahu. Dan kuda, sang prajurit mau gajah tahu arti prajurit. Karena mereka ini prajurit.
Kuda tidak pernah menampakkan diri, dengan begitu, gajah akan tetap mencari. Dengan begitu gajah tetap menjelajah lembahnya. Kuda sengaja.

Gajah mengerti.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

No comments:

Post a Comment