betapa bertuahnya kekuatan pikiran. mudah sekali bilang "kau mau maka kau bisa".... bagaimana jika kita tidak siap? kau tahu harus tetap berjalan tapi kau tidak siap untuk berjalan. kau tahu untuk sampai di sana, tidak ada jalan lain selain berjalan selangkah-selangkah, tidak bisa harapkan orang lain untuk beri tumpangan, membawa barangmu, apalagi tubuhmu. jika kau tahu itu tapi kau tidak siap, lalu apa? memaksa diri itu benar-benar sebuah opsi.
mudah sekali aku mengatakannya di sini, nyatanya? kau harus coba sendiri. rasa hampir putus asa dicampur lelah sekujur-kujur. kau tidak siapkan diri dan mental untuk jalan naik-turun bukit belasan kilometer, tapi bagaimanalah itu yang sedang terjadi. putus asa, dengan sisa semangat dari tanggungjawab. bukan gampang, buatku.
kawan jalan itu salah satu semangatku. ketika aku lalu merasa tidak berguna, ada rasa sayang untuk mengecewakannya. aku sudah bikin dia lelah lebih parah. musuh terbesar benar-benar dari diri. dengan begitu aku tidak boleh berpikir hanya ada aku. maka langkah persatu itu sebenarnya supaya dia tidak dibebankan lebih buat menunggu langkah pendek milikku. meski begitu, nyawa tetap dalam diri sendiri, karena disitulah semua diputuskan. maka aku berusaha untuk tidak lagi-lagi mengeluh. untuk kawan seperjalananku yang baik hati.
tapi lalu aku benar-benar sulit melangkah, tanjakan buat kaki beribu kali beratnya dari biasa. badanku jadi macam boneka beruang, besar, tapi tak bisa tegak. dahaga jadi musuh. air di botol cuma sisa satu-dua teguk, belum ada setengah jalan. pada saat itu aku coba untuk jadi bagian darinya, Sang Hutan. maka aku cari bulir air yang menggelantung di lumut di benhir pohon. kujilat, kuhisap. mengharap mereka berbaik untuk pejalan yang berkecil hati. benarlah, olehNya kami diberi hadiah, ditengah tanjakan, mata air bernyanyi. hati yang kisut diberi elus lembut. ada air! hati yang lesu lalu bersorak. kerongkongan kembali dialiri. wajah dibasuh, kaki diajak tenggelam sekejapan. hati yang lesu bersorak. ini hadiah! hadiah! lalu aku bersujud di tengah hari, di bawah rindang. mengucap syukur tak terkira.
ada nyawa baru kemudian dalam diriku. lalu aku bertanya pada mereka
adakah aku sudah jadi bagian darimu? dengan air yang sudah mengalir dalamku, adakah aku bagian darimu? ada nyawamu padaku, adakah aku sekarang bagian darimu, Hutan?tentu saja mereka tidak menjawab, tapi ada langkah mantap di habis air yang banyak ku reguk. aku merasa diterima. namun belum juga menyatu karena masih lelah tapak sini-situ. mereka cuma bisik pesan bahwa aku akan sampai dan harus tetap jalan. tidak ada yang tahu tentang hadiah lain, tapi mereka memang memberikannya, dari Hutan.
mengingat jalan panjang menuju Kasepuhan Ciptagelar, bersama kawan jalan yang budiman.
No comments:
Post a Comment