produk gagal. anak yang paling ngaco diantara saudara serahim. merasa istimewa? iya, kalau di arah yang salah itu masuk hitungan.
ini bukan hendak mengeluhkan tentang hidup, tapi porsi dari apa yang terpikirkan.
dari mana, dari mana ide yang bertebaran itu bisa masuk ke kepala? kenapa pikiran orang bisa tak berbatas, ga bisa tertahan buat bertanya hal sepele yang bikin telak. kenapa, diantara bertiga cuma anak tengah ini?
pertanyaan berkelebat banyak, melayang. cari jawab dari sana-sini. kalau aku memihak, lantas ga adil, tapi di satu sisi ada yang mohon, "sudah, jangan lagi jalan jauh, nanti tidak bisa kembali lagi!".
sok pinter, sok tahu. jadi merasa sok bisa. padahal nihil. kosong sekali. kok, aku?
lihatlah, adik yang aku begitu aku sayang: dia cantik, cerdas, lurus, tidak terbesit di benaknya pertanyaan aneh. mungkin dia terlalu cerdas itu sudah tahu jawabannya dan berpikir tak perlu mencari lagi
lihatlah kakakku: tidak sesoleh itu, tapi ah, dia bahkan tidak bertanya, dan dia aman.
kenapa aku bertanya? dari mana pertanyaan itu datang? dari mana ide itu datang? kenapa aku yang bertanya? apa karena aku yang tingkatan cerdasnya dibawah ini harus diuji dulu? maka kedua saudara itu tidak pernah bertanya: karena mereka cerdas. kenapa orang bodoh dapat pertanyaan macam ini? kenapa si anak tengah?
aku dianggap belok, teranggap hilang arah dan jalan di ruas yang tak semestinya. apa semua orang mengalami fase ini? apa yang salah? dimana aku salah pijak? karena setahuku memang ada bagian rumpang yang tak seorang pun bisa jawab. kenapa aku mempertanyakannya pula?
apalah aku di bandingkan si cantik yang kusayang. dia melebihiku dalam segalanya. segalanya. dan aku menyayanginya. sangat kusayang dan akan kujaga sepenuhnya. biar dia tidak bertanya macam aku. kenapa aku bertanya dan membedakan orang salih dan ilmuwan?
aku bahkan tak kenal diriku dan malah bertanya siapa yang mengambil alih. tolong, bunuh saja dia yang di dalam sana, tentang nanti hidup mati, yang entah teka-teki atau malah misteri, siapa yang akan tahu? dan kenapa aku mau di yakinkan, dengan entah apa yang bisa menarikku di jalan yang sesungguhnya jalan.
karena aku takut. ke mana harus mencari?
No comments:
Post a Comment