aku belajar mengeja Tuhan, yang bahkan diriNya tak tertulis
aku lihat lumut yang tebal menutupi pohon inangnya
kabut yang melayang menjadi bulir air menggantung
berkondensasi diantara karpet tebal, si lumut
aku lihat ringkal pakis yang masih menggulung
hijau hitam berbulu, menjadi pusat dari tangkai kaku
yang tidak berpembuluh. paku
pada batang-batang tepus yang di tebang
dan duri-duri rotan yang di elak
adakah jejak Tuhan yang aku cari?
lewat kecut begonia,
tercicipi hutan yang segar namun tidak muda
mereka yang (dibilang) selalu menyebut nama Tuhannya
lewat mata air yang ku reguk
ada nyawa hutan yang mengalir pada arteri dan kapilerku
adakah aku bagian darimu?
lalu mereka berbisik:
makhluk-makhluk kerdil, tidakkah
kau rindu Tuhanmu?
aku bisu...
No comments:
Post a Comment