Saya senang jalan-jalan. Saya suka perjalanan. Bukan hanya untuk tempat yang dituju, tapi apa yang ada dalam perjalanan.
Saya selalu suka naik kereta. Selalu norak. Selalu girang sendiri. Selalu merasa asyik. Selalu ada hal-hal diluar ekspektasi yang bikin selalu rindu ingin naik kereta lagi. Dari dulu selalu begitu, hingga sekarang.
Baru tiga kali saya naik kereta tanpa partner bersama saya. Tapi dalam tiga kali naik kereta itu pula saya memiliki partner asing dari dalam kereta.
Kali pertama, perjalanan pulang ke arah Jakarta. Saat baru naik gerbong, saya masih asyik mendengarkan Bruff (a.k.a. tafty). Saat saya duduk, saya mulai memerhatikan orang-orang dalam kereta, saya memutuskan untuk berhenti asyik bersama ipod dan menyimpannya apik. Saya melihat-lihat sekitar. Gerbong khusus wanita. Belum sesak, semua masih duduk. Ada ibu dengan anak-anaknya dan mungkin juga kerabatnya, mereka terlihat berbincang-bincang merencanakan akan kemana nantinya. Terlihat seperti ingin 'berlibur' ke Jakarta. Dua orang remaja, mungkin setahun atau dua tahun di atas saya. Asyik berdua, ngobrol. Sesekali tentang perkuliahan mereka.
Lalu saya beralih memerhatikan Sang Gerbong. Kereta Commuterline, mereka menyebutnya. Saya melongok ke atas. Cukup nyaman. Pakai kipas angin bukan AC. Lalu kepala saya beralih ke sebelah kiri atas, ke kiri saya lalu saya menoleh ke kanan saya. Dan tepat di sebelah saya, seorang ibu memerhatikan saya, menatap saya dan mata kami bertautan. Mungkin dia berpikir saya aneh karena kepala saya yang celingak-celinguk dari tadi. Lalu kami saling tersenyum, dia memulai percakapan.
Bertanya mau kemana, dari mana, sedang apa di Bogor. Lalu kami membicarakan hal-hal ringan. Tentang Bogor, tentang keluarganya, tentang kuliahnya dulu (lulusan akuntansi UNS) dst dst. Ibu itu hendak ke Tanah Abang dan mengaku baru pertama kali naik kereta Commuter. Dan ya begitulah dia bercerita, mengalir begitu saja dengan tanpa terasa saya sudah harus turun di Stasiun UI dan kami pun saling mengucap salam perpisahan, belum pernah bertemu lagi.
Kali kedua, satu pekan setelah pengalaman pertama. Perjalanan dari rumah kembali ke Bogor. Saya berniat naik kereta ekonomi. Ingin coba. Tapi berhubung keretanya masih setengah jam lagi, aku memutuskan naik Commuterline yang datang satu menit setelah aku tukarkan tiket ekonomi. Saya berada di gerbong khusus wanita (lagi).
Saat naik dari stasiun Tanjung Barat (atas saran dari mama dan ayah supaya lebih lengang dibanding st. UI mereka bilang), gerbong sudah cukup sesak bahkan untuk berdiri. Tapi tentu saja makin melengang sampai saya melihat seorang gadis kecil yang rambut dan kulitnya terwarnai matahari, pakaiannya cukup rapi. Dia naik dari stasiun Depok Baru dan turun di Depok Lama. Sendirian. Seorang ibu, duduk lesehan bersandar pada dinding ruang masinis, berkomentar,
"Berani bener deh itu anak, tumben pake baju rapi, biasanya kalo hari biasa minta-minta".
"Oh ibu tahu anak itu?", sahutku
"Iya, saban hari saya naik kereta selalu ada dia"
Itulah awal percakapan kami. Ibu itu pengguna kereta sejati! Beliau seorang pedagang sayuran di daerah Setiabudi. Tiap harinya pulang pergi Manggarai-Cibinong (eh saya lupa dia turun stasiun apa) untuk berjualan.
"Setiabudi mananya bu? Pasar Mencos?", tanyaku
"Iya. Kok tau, neng?"
"Oh haha iya. Dulu nenek saya tinggal deket situ. Karbela. Ua saya juga dagang di situ. Dagang daging"
"Di mencos? Dagang daging? Siapa namanya?"
"Ade. Saya manggilnya sih Papa Ade"
"Ade.. Ohhh Bang Ade????!"
"Ibu kenal??"
"Ohhh ponakannya Bang Ade?? Iyaa saya nabung sama Bang Ade! Tapi Bang Ade jarang keliatan, paling anak buahnya aja. Oooh ponakannya Bang Ade tohh"
Begitulah percakapan berlanjut lagi. Dunia cukup sempit ya. Bahkan kereta, dengan ribuan penumpangnya, orang yang berjarak kurang dari satu meter dari saya adalah kenalan abang mama saya. Ibu itu turun di stasiun Citayam (eh lupa deh). Kami mengucapkan salam sampai jumpa sebelum berpisah. Dan aku masih di dalam gerbong, celingak-celinguk ke luar jendela sampai akhirnya sampai di stasiun Bogor.
Kali ketiga, kemarin sore, dua pekan setelah pengalaman kedua. Mama minta aku pulang, rindu katanya. Aku berniat naik kereta ekonomi tapi lagi-lagi harus menunggu hampir satu jam. Dan tentu saja, Commuterline: Gerbong Khusus Wanita (selain baunya tidak terlalu menyengat, di gerbong khusus wanita memang terasa lebih nyaman, saya sengaja selalu di gerbong paling belakang dan belum pernah gerbong paling depan).
Kali ini seorang ibu yang ketemui berbeda. Dia terlihat mencolok bagi orang Indonesia. Kulitnya seperti Diana Ross atau Oprah. Posturnya lebih mirip Oprah. Awalnya aku sedang bertanya pada kondektur jam berapa biasanya ada kereta ekonomi. Setelah mendapat jawaban, gantian wanita itu yang bertanya, dengan bahasa inggris dan sang kondekturnya malah melihat meminta tolong padaku. Wanita itu menanyakan apakah gerbong ini khusus wanita? Dia bilang, saat berangkat ke Bogor dengan kereta juga, dia bersama suaminya, berdampingan dan saat pulang dia disuruh berpisah gerbong karena suaminya tidak boleh di gerbong khusus wanita "is it always like this?", dia bertanya. Saya jadi bingung sebentar bagaimana cara menjawabnya. Dengan modal pendengaran dan broken english akhirnya saya jawab terbata. Tentu saja jadi kagok.
Wanita itu dari Holland. Dia sedang berlibur di Indonesia setelah dari Singapura dan akan ke Bali beberapa hari lagi.. Dia bercerita tentang bagaimana shock nya dia harus menyebrang di jalan-jalan di Indonesia, tentang orang Indonesia di Belanda, hot issue di Belanda bahwa para veteran tua di Indonesia akan mendapat bantuan dari pemerintah Belanda. Saya baru dengar. Dia bilang program itu sudah dijalankan selama 3 bulan (entah masih dalam proses mendaftar nama-nama atau apa saya tidak paham benar). Dia bertanya saya mau kemana, dari mana, tentang school fee, bagaimana di Indonesia menyewa flat dst dst
Kami berdua jadi pusat perhatian di gerbong itu, tentu saja. Dia bercerita begitu ekspresif dan saya juga ekspresif, jadilah kami paling gaduh di gerbong itu. Dia sudah setengah baya, mungkin, tapi masih terlihat sangat segar. Sudah memiliki cucu. Suaminya terpisah di gerbong sebelah. Dia akan turun di stasiun Kota dan saya membuat dia yakin bahwa dia tidak akan salah stasiun karena itu stasiun terakhir. Kami berbincang, mengalir, tentang keluarga, Indonesia, spot-spot di Indonesia, Jakarta, asuransi dan dia berharap saya bisa ke Holland nantinya "Who knows?", katanya. Dia meminta alamat email saya.
Tanpa terasa sudah di Depok. Saya bilang kalau hendak turun di stasiun UI. Sekitar satu atau dua stasiun lagi. Kami saling mengucap perpisahan. Senang bisa saling berkenalan lalu di masih bercerita sedikit-sedikit. Saya akhirnya pamit turun dan ternyata itu masih di Pondok Cina =='. Salah turun. Tapi kereta sudah terlanjur tertutup dan jalan. Saya cume bisa senyam-senyum sendiri. Ada salah satu penumpang yang turun bersamaku dan berkomentar,
"Lho mba, bule nya ga dibawa?"
"Haha ya masa dibawa pulang,mba"
"Oh baru kenalan tadi? saya pikir mba 'guid' nya"
"Hoo haha bukan mba"
Yaa begitulah. Selalu ada hal tak terduga, pelajaran tak terduga. Nilai-nilai yang tidak bisa dibandingkan dengan naik bus Laladon-Cileungsi yang lebih murah. Saya suka jalan-jalan. Saya suka perjalanan. Saaangaaat suka. Terlebih naik kereta. Dimana para penumpang lebih bisa bersosialisasi dengan lebih nyaman jika dibandingkan naik bus atau angkot.
Menikmati perjalanan, bukan sekedar untuk tempat tujuan tapi proses untuk sampai ke tempat tujuan. Saya bertanya-tanya akan seperti apa perjalanan saya selanjutnya. Tidak. Jangan berharap banyak sesuatu terjadi. Kalau tidak terjadi, saya yang dikecewakan oleh harapan saya sendiri. Biarkan sesuatu terjadi, karena memang sudah ada yang menuliskannya untuk kita.
Misteri hidup memang kejutan istimewa, di setiap detiknya. Dan saya yakin. Saya akan memiliki cerita-cerita lain (yang mungkin cerita biasa, sederhana yang bikin saya terkesan) dengan banyak melihat sekitar saya. Dengan saya memerhatikan kanan, kiri, atas, dan bahkan bawah saya (sebenernya ga pernah liat bawah, saya meleng kalo jalan =,=).
Saya akan berjalan-jalan keliling Indonesia nantinya! Harus!! :D ihiy
whoaa asyiik bangeeet...
ReplyDeleteah, nice story darling. you'll never know the chance ahead ;)
ReplyDeletej'adore beacoup ma cherie :)
ayu: iya yuuu asyiksss sangaat :D
ReplyDeleteputri: :D iku artine opo mba sasper?